Iklan


Author Details

Urea Langka dan Mahal, Petani Jagung Menjerit.

Media Merdeka
Minggu, 07 Februari 2021, Februari 07, 2021 WIB Last Updated 2021-02-07T10:29:08Z
masukkan script iklan disini
masukkan script iklan disini

 

Petani jagung menjerit akibat kelangkaan pupuk jenis Urea dan mahalnya pupuk bersubsidi itu berdampak terhadap hasil panen yang menurun drastis. 

MediaMerdeka, Bolmut - Sejak pemerintah menaikkan harga pupuk bersubsidi di tahun 2021 sesuai (Permentan) No. 49 Tahun 2020 lalu, hasil panen petani jagung di Kabupaten Bolaang Mongondow Utara (Bolmut) menurun drastis. Padahal permintaan pasokan jagung cukup banyak dan tak mampu dipenuhi petani jagung. 


Menurut petani di Bolmut, Harga Eceran Tertinggi (HET) pupuk bersubsidi jenis Urea naik cukup signifikan, dari sebelumnya Rp. 1.800 per kilogram, kini mereka harus merogoh kocek sebesar Rp. 2.250 untuk mendapatkan pupuk per kilogramnya. Selain harganya, pupuk urea juga langka di pasaran sehingga petani setempat kesulitan untuk mendapatkannya, kalau pun ada, jumlah yang bisa mereka beli terbatas, jauh dari jumlah yang mereka butuhkan.


Julfikar Toliu', salah seorang petani jagung di Desa Olot, Kecamatan Bolangitang, Kabupaten Bolmut mengeluhkan kelangkaan dan tingginya harga pupuk bersubsidi yang jadi andalan untuk lahan pertaniannya itu.

Julfikar Toliu', petani jagung yang mengeluhkan langkanya dan tingginya harga pupuk.


"Ketersediaan pupuk urea sangat berarti bagi kami untuk memaksimalkan hasil pertanian kami. Tapi kini pupuk sulit didapat dan harganya mahal, otomatis hasil panen kami berkurang dan tak mampu memenuhi permintaan pasar. Untuk 1 hektare lahan, kami butuh 200 kg pupuk tapi kini yang didapat hanya sampai 100 kg saja," keluhnya.


Dirinya berharap, pemerintah memberikan perhatian kepada para petani atas ketersediaan pupuk sesuai yang petani butuhkan. (Raja)

Komentar

Tampilkan

Terkini