Iklan


Author Details

Sumitro Tegela: "Jangan Abaikan Komitmen Adat Budaya Leluhur BMR,"

Media Merdeka
Senin, 22 Maret 2021, Maret 22, 2021 WIB Last Updated 2021-03-22T08:59:44Z
masukkan script iklan disini
masukkan script iklan disini
Sumitro Tegela, Aktivis dan Pemerhati Budaya BMR.


MediaMerdeka, Bolmong - Berkiblat pada sejarah Bolaang Mongondow yang merupakan wilayah swapraja yang memiliki kesejajaran dengan daerah lain yang juga  berlatar belakang kerajaan seperti daerah kesultanan Jogjakarta, Kesultanan Aceh, Kesultanan Makassar, Kesultanan Ternate dan lain sebagainya, namun hari ini seakan marwah tanah leluhur BMR telah hilang bak ditelan bumi.


Padahal sejarah tertulis dan mengakui akan jati diri dari Bolaang Mongondow Raya yang memang dulunya merupakan wilayah eks Swaparaja yakni kerajaan Bolaang Mongondow, Kaidipang, Bintauna dan kerajaan Bolaang Uki.


Namun pada kenyataannya saat ini, keistimewaan BMR sebagai tanah leluhur para bogani dari sisi politik, ekonomi, sosial dan budaya sepertinya masih kurang mendapatkan perhatian khusus dari pemerintah Republik Indonesia sejak terbentuknya kedaulatan di negeri ini.


Menyikapi kesenjangan akan terabaikannya sebagian hak masyarakat tanah leluhur Totabuan Bolaang Mongondow tersebut, salah satu pengamat sekaligus aktivis budaya Bolaang Mongondow, Sumitro Tegela pada mediamerdeka di sela-sela bincang pagi di cafe town Kotamobagu mengutarakan kerisauannya atas kondisi BMR yang sudah begitu lama masih kurang mendapatkan perhatian khusus dari pemerintah pusat maupun daerah tentang bagaimana memberikan penghargaan atas wilayah BMR yang memang tak bisa dibohongi akan kesetaraannya dengan daerah lain di Indonesia yang hari ini telah mendapatkan sebagian haknya dengan berlandaskan pada status Swapraja dimaksud.


Menurutnya, para tokoh-tokoh di BMR yang memiliki power untuk memperjuangkan hak dan jati diri orang Mongondow harus ada niat untuk memikirkan kemaslahatan masyarakat BMR, tidak tercerai berai dalam persoalan politik dan kepentingan kelompok dan individu.


"Kita adalah orang Mongondow yang dikenal sebagai suku mongondow, sama seperti orang suku jawa, suku batak, suku bugis dan lainnya. Akan tetapi bedanya keistimewaan mereka dikenal di se-antero persada bahkan hingga keluar negeri, tidak seperti suku Mongondow. Padahal kita juga tak kalah hebatnya dengan mereka yang sama sama memiliki sumberdaya fisik maupun non fisik dari semua sektor,'' beber Sumitro Tegela.


"Apa bedanya kita suku Mongondow dengan suku lain di Indonesia ini yang sama-sama memiliki sumber daya? Bedanya, suku lain dikenal hingga tingkat internasional, mereka mendapatkan pembagian kue yang bagus, sedangkan kita tidak. Oleh karena itu, harus ada kesungguhan hati dari kita semua para pemegang kekuasaan di Tanah Adat Totabuan ini untuk kembalikan jati diri dan marwah tanah leluhur BMR. Kesampingkan kepentingan kelompok dan pribadi demi terwujudnya hak serta pengakuan yang sama di mata persada hingga di mata dunia dan yang terpenting, jangan abaikan komitmen para leluhur," harap aktivis dan juga tokoh pemerhati budaya BMR ini.(Raja).

Komentar

Tampilkan

Terkini